Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeAbout MeJul 4, 2005
Mia Aristanti
Born 23 April
Female, married with four dogs
Lives in Bali
Loves to cook, eat and read
A compulsive shopper
A wannabe writer
A scuba diver
Always want to travel... see, smell, hear, experience, learn new things

Photo AlbumNEW PRODUCT: doggie backpackSep 5, '10 9:15 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
This unique bag can carry a multitude of stuff as well as giving your dog additional weight for exercise. Made from high quality sunbrella material, the bag is easy to clean and quick to dry. You can use this back anytime, even when your dog has the tendency to hurl his/herself towards any body of water like ours!

The backpack consits of two side pockets with zippers and a thin padding on the back at 29 cm length with three adjustable straps on each side that you cans et according to your dog's body width. There are two adjustable buckles on the chest and under the stomach to keep the backpack in place.

You can put your dog's snack, water pouch, toys or leash for your dog to carry. You can also put water bottles for additional weight if your dog needs extra exercise. Please take care to provide equal weight between the right and left pockets.

This backpack also gives the dog a sense of duty so the dog is happier about his/her exercise program, and result in a more obedient dog.

SIZES:

Medium for dogs 15-25 kg (pouch size 17 x 27 cm) price Rp 185,000
Large for dogs above 25 kg (pouch size 25 x 35 cm) price Rp 215,000

Free delivery within Indonesia only.

Blog EntryAug 1, '10 11:43 PM
for everyone
Pagi ini saya baca kisah sedih yang membuat hati saya miris sampai hampir menangis.

Berikut saya copy-paste kisahnya yang diambil dari Kaskus.

----

Jadilah buyer dan owner yang bertanggung jawab, please.....

sudah banyak thread atau himbauan untuk para seller dan breeder untuk bertanggung jawab atas hewan yang dipelihara dan dijualnya,

saya sebagai breeder dan owner dan mewakili beberapa breeder yang sepaham dengan saya, juga ingin menghimbau dan memohon pada kalian para buyer dan calon owner, tolong bertanggung jawab dan sayangi lah hewan yang kalian adopt dari kami.

kami pelihara mereka dengan sepenuh hati, kami anggap mereka anak kami juga, waktu mereka lahir atau melahirkan, kamu bergadang semalaman untuk bantu persalinan mereka, kami ambil mereka waktu baru keluar dari rahim sang induk, tanpa peduli jijik dan amisnya darah, kami keluarkan mereka dari selaput pembungkus mereka, kami potong tali pusarnya, kami bersihkan, kami taruh mereka di puting induknya agar bisa menyusu. Induknya pun ngga kalah sayangnya dengan kami, dia jilati anaknya dengan penuh kasih sayang dan biarkan mereka menyusu dengan tenang.

seiring pertumbuhannya, kami bersama induknya mengawasi hampir 24 jam, kami bersihkan kandangnya agar mereka sehat dan terbebas dari segala kuman dan virus, bahkan kami bantu mereka minum susu dengan dot dan ketika sudah lebih besar, kami suapi mereka dengan bubur susu

ketika sudah waktunya disapih, dengan berat hati dan tangis kami relakan mereka ikut dengan kalian para owner baru, harapan kami, kalian akan menyayangi mereka sebagaimana kami menyayangi mereka

kejadian yang saya alami 2 hari ini yang membuat saya berani membuat tulisan ini
saya melepas puppies siberian husky saya pada buyer yang saya anggap baik dan pantas untuk merawatnya, dan betapa senangnya saya ketika new owner memutuskan untuk keep contact dengan saya, sehingga saya bisa mengikuti perkembangan puppies saya...

tahun pertama dan kedua, betapa bangganya saya melihat dia tumbuh menjadi siberian husky yang cakap dan keren, saya merasa sudah memilih orang tua baru yang tepat buatnya

lihatlah, siapa tak bangga punya anjing cakap seperti dia ??



tetapi... 2 hari yang lalu saya mendapat mssg, chii kun sekarat...
saya pikir sakit apa dia...
saya tanya dimana chii sekarang, owner bilang di rumah
saya tanya sakit apa, owner bilang ngga tau
saya tanya sudah bawa ke dokter, owner bilang BELUM

-saya mulai berpikir, agak keterlaluan owner satu ini-

saya tanya bagaimana keadaan chii sekarang, owner jawab ngga tau, saya di kantor suami pergi, anak sekolah, tadi pagi cuma tidur sambil mendengking menangis
saya tanya siapa yang rawat sekarang, owner jawab NGGA ADA dan ngga tau masih hidup atau engga

- saya sudah mulai menangis dan panik, membayangkan anak kesayangan saya tergeletak sekarat dan sendirian, ingin rasanya teriak, cobalah pikirkan dan bayangkan perasaan chii !!!-

saya tanya, kapan suamimu pulang, owner jawab, 1 jam lagi
saya tanya, kalau memang chii masih hidup boleh saya panggil orang klinik buat jemput chii, owner jawab, bayarnya nanti mahal ngga?

- ya Tuhan, masih punya hati kah kamu wahai manusia ?? beginikah yang kau bilang dog lover ???-

saya histeris, bisakah kamu pikirkan keadaan chii dahulu sebelum uangmu ?? dia menjawab, saya takut nanti bayarnya mahal

maaf kalau saya egois, tapi saya tidak menerima alasan untuk hal seperti ini, klinik langganan saya, adalah sekumpulan orang penyayang binatang yang mengabdikan diri pada kesehatan hewan, bukan sekumpulan orang yang tega mengacuhkan hewan sekarat hanya karena ownernya tidak punya uang
[ dan saya tahu pasti mereka bukan tidak punya uang, kalau memang bukan orang berada, bagaimana bisa jalan2 sekeluarga ke LN ??]

saya paksa owner untuk suruh suaminya segera pulang sementara saya hubungi dokter klinik untuk jemput.
beberapa jam kemudian saya susul ke klinik, benar2 menangis saya melihat chii, yang membuatnya sekarat bukan penyakit yang saya bayangkan sebelumnya, hepatic, parvo, distamper..... tapi scabies dan jamur diseluruh tubuh !!!

seluruh kulit sudah dipenuhi kerak dan keras seperti kulit kayu, luka menganga mempertontonkan daging tanpa kulit akibat gigitan menahan sakit dan gatal dimana2, mata tertutup kerak scabies, jangankan berdiri, untuk bergeserpun sudah tidak ada kekuatan, setelah di infus beberapa jam chii mulai bisa angkat kepala, mau minum air madu dan makan recovery sd yang dicairkan...

sore hari owner sms dokternya, dia tanya, bagaimana keadaan chii, harapan hidupnya berapa persen
tega kau bertanya seperti itu owner ?? tidak ada kalimat tolong sembuhkan chii, atau tolong diusahakan dsb....

malam itu saya pulang penuh harap, semoga besok keadaan chii sudah lebih baik
pagi ini saya dapat kabar dari klinik, suhu badan chii drop, ketika saya sampai klinik hari sudah siang, chii sudah tergeletak lemas dan mata tertutup
saya belai kulit kerasnya, di tempat yang tidak ada lukanya, saya janjikan dia pulang ke rumah saya, bukan ke rumah owner...
selang beberapa saat, saat dokter cek keadaan chii, infusnya macet, dan mau dipindah ke tangan yang lain, sambil terus saya belai chii, chii mengejan, ternyata dia pup, saya bersihkan, lalu chii pee, beberapa menit kemudian chii pergi
chii memilih pulang ke rumahNya daripada ke rumah saya...
saya ikhlaskan, tapi saya menyesal dan sangat merasa bersalah, andai saya lebih selectif memilih adopter, andai saya meluangkan waktu untuk sering menjenguknya, dan berakhir dengan perasaan menyalahkan...

andai dulu waktu owner bilang chii gatal2, dan saya bilang kasih obat a, obat b, dan lain2 si owner mau benar2 memberikan
andai dulu waktu saya bilang bawa ke dokter, dan owner benar2 membawa ke dokter
andai dulu dia mengikuti kata2 saya
chii tidak akan menderita

mungkin ada dari kalian yang membaca tulisan saya menganggap saya terlalu berlebihan, tapi jika kalian benar2 menyayangi pet lover khususnya dog lover, tegakah kalian melihat keadaan chii seperti ini ???


saya benar2 memohon kepada kalian para calon owner, saat kalian memutuskan untuk mengadopt seekor hewan peliharaan, pikirkan kelangsungan hidup mereka pula, sanggupkah kalian memberikan yang terbaik atau paling tidak selayaknya bagi mereka ??? jangan sampai ada chii - chii yang lain hanya korban keegoisan kita manusia, mereka juga nyawa yang diciptakan Tuhan, sama seperti kita, mereka punya rasa dan perasaan, mereka bisa sakit dan sedih
tolong, jadilah owner yang bertanggung jawab...

saya minta maaf jika memang ada yang kurang berkenan dengan tulisan saya ini, saya hanya ingin share perasaan saya sekarang, saya ingin semua bisa merasakan, karena saya sangat sayang mereka, anak2 saya yang berkaki 4...

----

JAHAT sekali pemilik hewan yang menelantarkan peliharaannya sampai ke kondisi separah itu! Sayang sekali di negara kita belum ada hukum mengenai kejahatan terhadap binatang, kalau di negara-negara yang lebih maju pasti pemilik anjing itu sudah mendekam di dalam penjara. KEJAM sekali membiarkan anjing makin lama makin sakit sampai meninggal dengan sengsara, hanya karena takut mengeluarkan uang untuk pengobatannya. Sungguh TIDAK MANUSIAWI membeli hewan hanya untuk prestise atau kebanggaan diri tetapi begitu sakit dia lepas tangan.

Bila kita telah memutuskan untuk memelihara hewan di rumah kita, mereka adalah tanggung jawab kita, dan sudah tugas kita untuk memenuhi kebutuhan mereka termasuk makanan, kesehatan dan kasih sayang. Di samping itu, pertimbangkan opsi sterilisasi untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

Untuk pembiak anjing, pastikan orang yang mengadopsi atau membeli anjing dari Anda benar-benar sayang anjing dan mau merawat dengan sebaik-baiknya. Bila perlu, buat perjanjian tertulis dengan pembeli mengenai perawatan hewan dan lakukan kunjungan atau kontrol berkala. 

Sudahkah Anda mengelus anjing Anda hari ini? Sudahkan Anda cek kondisi badan (bulu, mulut, kaki, mata dll) untuk melihat apakah ada hal-hal yang tidak beres?

Mari beri pelukan ekstra untuk hewan peliharaan Anda, saat ini juga. Mari perbaharui komitmen untuk menyediakan yang terbaik sesuai kebutuhan mereka, walaupun dengan segala keterbatasan kita.

Mari jaga titipan Tuhan yang indah ini, yang dipercayakan kepada kita...

RecipeJun 24, '10 10:28 PM
for everyone
Category:   Soups & Stews
Style:   Soulfood
Servings:   6-8

Description:
This isn't the most practical dish to make, nor it is a healthy dish.. but it really warms the soul :)

Ingredients:
1 kg (2lbs) cut oxtail
3.5 L (about 1 gallon) water
8 carrots, cut into large chunks
4 medium-sized potatoes, cut into large chunks
4 large tomatoes, cut into 8 wedges
4 scallions, cut into 3 cm (about 1 inch) pieces
a handful of fresh parsley leaves
3 cm (about 1 inch) ginger, smashed
4 - 5 cloves
salt and white pepper to taste
kecap manis (sweet thick soy sauce)

Ground the spices finely in a food processor:
7 shallots
4 garlic
5-6 candlenuts, roast briefly in a pan
2 teaspoon of freshly grated nutmeg
2.5 cm (about 1 inch) ginger, chop finely
salt and white pepper
After grounding, fry the spices in butter until fragrant and slightly browned.


Directions:
In a large pot, boil the oxtail in water, remove the froth and discard.
Put the oxtail and 1/3 of the broth in a pressure cooker, cook until the oxtail is tender (about 30 minutes). If you don't have a pressure cooker you can just continue simmering the oxtail in the pot, it will take 4-5 hours.
Remove the oxtail from the pressure cooker and put back into the pot. Discard the broth from the pressure cooker to make the soup less fatty.
Bring back to boil, add ground spices, ginger and cloves.
Add the potatoes, carrots and tomatoes, cook until tender.
Add kecap manis, salt and pepper to taste.
Add the scallions and parsley leaves just before you turn off the heat.
Serve with homemade sambal, fried shallots and a squirt of lime. Best eaten with rice.

Homemade sambal:
Boil briefly 1 big red chilli, 1 clove garlic and several small red chilli (chilli padi) depending how spicy you want to sambal. Ground finely in a food processor with salt and sugar.


Blog EntryJun 23, '10 3:15 AM
for everyone

Kayaknya tiada hari berlalu tanpa berita mengenai video porno selebriti. Mengenai apakah pelakunya benar-benar selebriti itu atau bukan, nggak begitu penting lagi. Saya lebih berminat mengikuti tingkah polah masyarakat dalam menyikapi insiden ini. Sebagian berebut ingin nonton videonya. Sebagian mencela video ini sebagai “perusak moral bangsa”. Sebagian mencak-mencak ingin pelaku dan pengedar dihukum seberat-beratnya. Pagi ini saya kebetulan menonton berita di televisi, bahwa sejumlah golongan tertentu berdemo di jalan-jalan di sejumlah kota besar, menuntut agar pelaku dihukum rajam.

 

Ekstrim sekali ya, hukum rajam. Sadar nggak sih mereka, betapa brutal dan berdarahnya hukuman ini? Di tengah era yang serba modern ini, masih ada saja yang mau melakukan siksaan fisik secara kejam. Padahal, belum tentu yang menuntut hukuman barbar ini bersih dari dosa. Bisa jadi mereka juga telah menonton, bahkan memiliki koleksi videonya (iyalah, tokoh masyarakat saja bisa ketahuan menyimpan koleksi porno1…).

 

Saya jadi ingat cerita di Alkitab – kebetulan saya adalah umat Kristiani, walaupun dijamin masih banyak cacat celanya – di kitab Yohanes. Di situ diceritakan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (maksudnya: ahli kitab dan tokoh-tokoh agama pada masa itu) membawa seorang wanita yang ketahuan berzina ke hadapan Yesus. Di masa itu, perzinaan harus dihukum rajam. Bereka bertanya, apakah yang akan Yesus perbuat terhadap perempuan ini. Waktu itu Yesus baru mulai “naik daun”, banyak melakukan mukjizat dan berbicara tentang hal-hal yang kontroversial dengan hukum agamawi yang berlaku saat itu, sehingga banyak ahli agama yang berseteru dengan-Nya dan berusaha mengkontradiksi ajaran-ajaran Yesus. Saat ditanya, Yesus diam saja, malah sibuk menulis-nulis dengan jarinya di tanah. Setelah didesak terus-menerus oleh para ahli agama, Dia pun berdiri dan berkata, “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7) Insiden ini berakhir dengan bubarnya para ahli agama satu-per satu, mulai dari yang tertua, karena memang tidak ada di antara mereka yang tidak berdosa. Yesus pun mempersilakan wanita itu pergi, teriring pesan untuk jangan berbuat dosa lagi2.

 

Nggak beda-beda jauh kan, dengan kasus Ariel Peterporn?

 

Banyak yang mencela bahwa video porno yang beredar itu merusak moral. Tapi menurut saya, bukankah moral itu bawaan diri kita sendiri, sebagaimana diajarkan oleh orang-orang yang membesarkan kita? Kalau kita dididik teguh dan punya iman yang memang dipraktekkan sehari-hari (bukan hanya status agama yang tercetak di KTP), mau ada video porno, foto mesum atau godaan apapun sih ga masalah. Kalau memang situ imannya bocor alias gampang tergoda, ya jangan menyalahkan godaannya dong… sama saja “buruk rupa cermin dibelah”. Ada Siddharta Gautama yang tetep lempeng bermeditasi walaupun digoda segerombolan wanita menari-nari di hadapannya. Seandainya beliau nggak kuat, mungkin agama Buddha tidak akan ada. Tapi apakah itu berarti salah wanita-wanita penggodanya? Kalau memang iman tidak kuat, satu wanita, buah ranum yang jatuh dari pohon, hujan deras, apapun bisa jadi penyebab gagal meditasi. Intinya, kalau kita jatuh ke dalam godaan, jangan salahkan penggodanya tapi salahkan diri kita sendiri yang tidak kuat digoda. Bukan salah videonya kalau pada dasarnya mental mesum kan?

 

Dan yang ribut-ribut minta hukum rajam, belajarlah dari kisah di atas. Meskipun mungkin bukan dari kitab suci agamanya sendiri, tapi kisah ini mempunyai pesan yang berlaku untuk siapapun. Yesus yang ditengarai hidupnya suci tanpa dosa saja mau mengampuni wanita yang jelas-jelas ketahuan berzinah. Lah, kita yang nggak jauh-jauh dari dosa, apa berhak untuk marah dan menghakimi? Apa nggak malu kalau mulutnya teriak-teriak minta penghukuman, petentengan ikut demo, sedangkan otak dan syahwat tetap bercokol di zona dosa? Seperti halnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kita harus punya cukup hari nurani untuk menyadari bahwa kita tidak layak untuk sembarang berkoar dan menghakimi.

 

Masalahnya, sangat banyak orang yang dengan keliru menyangkutpautkan agama dengan moralitas… Padahal kalau moral sudah jebot, mau memeluk agama apapun takkan ada guna. Mencatut moral dengan mengatasnamakan agama, bagi saya tidak valid.

 

Pelakon video porno (selebriti atau bukan), pencuri dan pengganda videonya, dan juga pengedarnya, mungkin mereka sendiri sedang bergumul dengan “kejatuhan” mereka, dengan berbagai alas an yang kita tidak ketahui. Apakah kita memiliki kebesaran hati untuk mengakui bahwa kita tidak lebih baik dari orang-orang yang sedang “jatuh” ini?

 

Jarang-jarang nih, saya mengutip Alkitab! (malu sama dosa yang bejibun) Tapi nggak tau kenapa, berita hukum rajam pagi tadi membuat saya teringat akan kisah tentang pezinah ini. Kalau ditilik dari segi fungsi, kitab suci (agama apapun) dibuat sebagai pedoman hidup kita sehari-hari – kasarnya sebagai manual kita dari segi iman, sebab kelakuan kita sehari-hari mencerminkan iman kita. Di tengah jaman yang makin berkembang dan makin “aneh-aneh” kita justru makin perlu pegangan dan pedoman yang kuat. Ajaibnya, isi kitab suci tetap relevan dengan hidup kita saat ini, walaupun kitab ini diterbitkan ribuan tahun yang lampau. Artinya, manual ini belum obsolete, masih bisa dipakai Pedoman hidup jaman dahulu kala (kasih dan hati nurani) masih berlaku sampai sekarang.. tinggal gimana kita mempraktekkan kedua hal tersebut dalam hidup kita.

 

 

1 http://m.kompas.com/news/read/data/2008.09.08.12112019

2 http://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=Yoh%208:1-11&tab=text


Blog EntryJun 18, '10 3:10 AM
for everyone

Saya seharusnya merasa bersyukur, karena diri saya termasuk jenis manusia yang jarang sakit – berarti jarang pula ke dokter. Tetapi karena namanya masih manusia, saya sering lupa betapa kesehatan itu sangat berharga. Ketika minggu lalu saya harus berobat karena dengkul yang sering senut-senut (factor umur nih!), saya diingatkan kembali betapa mahal kesehatan badan dan betapa jeleknya pelayanan kesehatan di negara kita.

 

Dimulai dari daftar ke dokter ahli ortopedi yang cukup ternama, yang berpraktek sore hari di sebuah klinik merangkap apotek yang cukup ternama pula. Karena ini pertama kalinya saya hendak periksa, saya telefon klinik tersebut untuk menanyakan hari dan jam praktek dan sekaligus mendaftar. Info yang saya dapat, praktek tiga kali seminggu dari jam 5 sore. Namun saya heran ketika diberi tahu bahwa saya harus datang sendiri ke ruangan dokter tersebut untuk daftar (ambil nomor). Loh, mengapa harus dating ya kalau untuk ambil nomor saja? Mengapa tidak bisa lewat telefon saja, kan jauh lebih hemat waktu dan biaya transportasi. Ya sudahlah, mau gimana lagi, untungnya rumah saya tidak jauh dari tempat praktek dokter tersebut.

 

Sesuai anjuran, saya datang tepat jam 3 sore untuk ambil nomor. Ternyata nomor antrean untuk hari itu sudah mencapai urutan 50, berarti pasien-pasien yang lain sudah mengambil nomor antrean dari beberapa hari sebelumnya. Akhirnya saya ambil nomor antrean untuk keesokan harinya, dapat nomor urut 4. Asisten dokter berkata bahwa saya harus dating jam 5 sore, pas jam kedatangan sang dokter. Saya bilang bahwa ini pertama kali saya hendak periksa di sini, apakah ada formulir yang perlu diisi? Tidak usah, kata si asisten. Aneh juga, tapi waktu itu saya diam saja.

 

Keesokan harinya tepat jam 5 sore saya tiba di ruang tunggu sang dokter. Buset, sudah hampir penuh ruang tunggunya. Saya lapor kepada si asisten lagi, dan sempat mengintip buku tamu – ternyata sudah di atas 50 lagi pasien yang mengantre hari itu. Kalau saya yang dapat nomor antrean urutan 4 wajib datang jam 5 sore, kelihatannya yang dapat nomor urut 30-an juga harus datang di jam yang sama. Jadi dokter ngetop harus punya stamina tangguh ya? Sehari bisa lebih dari seratus pasien yang harus ditangani. 

 

Saya duduk di ruang tunggu, berbekal sebuah buku. Ternyata ini langkah cerdas yang saya ambil, karena saya harus menunggu selama satu jam sebelum sang dokter akhirnya tiba. Sesekali saya melirik ke ruang tunggu, melihat wajah-wajah di situ. Ada yang tua, ada yang muda, ada yang terlihat cidera, ada yang nampaknya biasa-biasa saja seperti saya. Pikir saya, untung ini dokter ahli ortopedi, bisa dibilang tidak banyak kuman dan penyakit yang bertengger di ruang tunggu ini. Coba kalau di ruang tunggu dokter umum atau ahli penyakit dalam, banyak yang batuk-batuk, muntah-muntah, menggigil demam, meriang, semua berkumpul di satu ruangan. Bayangkan berapa banyak penyakit yang “disekap” di ruang tunggu itu, bisa-bisa kita ketularan penyakit gara-gara hendak periksa di dokter.. sungguh ironis kan?

 

Jadi teringat waktu saya tinggal di Jerman dulu, sempat ke dokter satu kali untuk memeriksakan pusar saya yang iritasi akibat ditindik. Ruang tunggunya kosong melompong, hanya ada satu sekertaris yang kerjanya menerima telefon untuk appointment. Jadi peredaran kuman penyakit di ruang tunggu bisa ditekan seminim mungkin. Memang di klinik swasta tidak bisa asal datang, harus janjian dulu, sama seperti di sini. Bedanya, dokter di sana pandai membuat jadwal, dan tidak kemaruk menerima sebanyak-banyaknya pasien tiap kali praktek. Janji temu dibuat tiap interval satu jam atau setengah jam. Saya datang lima menit sebelum jam temu saya, dan memang harus tunggu lima menit sebelum boleh masuk. Bisa jadi pasien sebelum saya sudah pulang sebelum saya tiba, tapi tetap saya hanya boleh masuk pada jam yang telah ditentukan. Tambahan lagi, ruang tunggunya bagus, dengan sofa-sofa empuk dan berbagai majalah yang isinya nggak jauh-jauh dari dunia kesehatan.

 

Pukul 6 sore lewat sedikit, saya dipersilakan masuk ke ruang praktek dokter. Ada dua lagi asisten dokter di dalam ruangan itu. Setelah konsultasi singkat mengenai masalah lutut saya, disambung dengan tekan-tekan lutut sedikit di meja periksa, dokter berkata bahwa dengkul saya mulai aus karena proses penuaan. Saya langsung diberi resep dan ditagih biaya periksa Rp 100,000. Tidak ada penjelasan tentang senut-senut dengkul sampai saya tanyakan. Penjelasan pun diberikan singkat, menggunakan gambar di notes kecil yang tampaknya sudah digunakan ribuan kali. Pertanyaan saya tentang jenis obat yang diberikan pun tidak dijawab dengan tuntas, hanya sebatas “ya ini untuk mengatasi aus”. Terus terang, nggak puas.. tapi sudah dipersilahkan pergi karena puluhan pasien lain sudah menunggu. Setelah keluar dari ruang praktek, baru saya teringat kalau dokter tidak bertanya apakah saya alergi obat-obatan tertentu, ada gangguan lambung dan lain-lain (dan terbukti, saya mual-mual terkena efek obat yang diberikan). Oiya, dokternya menerima sendiri uang ongkos periksa dengan tangannya, berarti sebelum pegang-pegang lutut saya beliau juga telah menerima uang dari pasien-pasien sebelumnya dong? Meskipun “hanya” bidang ortopedi, di mana kebersihannya nih?

 

Kembali lagi ke masa-masa di Jerman dulu, dokternya membersihkan pusar saya dengan higienis dan seksama, sambil berkomentar ini-itu seputar masalah iritasi akibat tindik itu, sampai ke efek parahnya bila tidak ditangani dengan benar. Semua pertanyaan saya dijawab dengan detail. Dokter juga tidak menerima uang, dan tidak menulis resep di kertas. Sambil menjelaskan jenis obat dan vitamin yang diberikan, sang dokter mengetikkannya di komputer. Kemudian saya tinggal turun ke apotek di lantai bawah, mengambil obat (sudah siap saat saya tiba di sana) dan menunjukkan kartu asuransi. Nggak bayar! Ongkos sebesar hampir 100 Euro semua ditanggung oleh asuransi, tidak perlu bayar duluan dan mengajukan klaim kemudian.

 

Bisa nggak yah hal-hal seperti itu diterapkan di sini?

 

Nggak usah muluk-muluk dulu soal internal network ruang praktek ke apotek, nggak usah mikir dulu soal automatic insurance coverage. Soal ruang tunggu aja deh, dibenerin dulu. Terus terang saya merasa risih duduk di ruang tunggu dokter karena membayangkan jutaan kuman yang singgah di sana tiap harinya. Juga merasa sebal karena harus menunggu berjam-jam padahal sudah ada janji temu sebelumnya. Waktu kan juga mahal harganya, banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan selain duduk bersimbah kuman di ruang tunggu dokter. Apalagi bila misalnya demam, bukankah lebih baik istirahat di rumah daripada duduk di kursi plastik di ruang tunggu di tengah kerumunan penyakit-penyakit lainnya?

Bila dilihat garis besarnya, klinik swasta sama saja dengan bisnis-bisnis pada umumnya, kita membayar untuk jasa yang didapatkan. Herannya, tidak ada yang mempertanyakan servis buruk yang diberikan. Coba kalau kita disuruh menunggu sejam lebih di spa atau di restoran, pasti sudah mencak-mencak dan amit-amit haram jadah untuk kembali ke tempat itu lagi. Kalau urusan dokter, lain cerita.. dokter yang ngetop sama dengan puluhan pasien duduk manis tanpa protes di ruang runggu. Mutu customer service sama sekali tidak dipertanyakan di sini. Memang kita butuh dokter ya.. tapi bukankah dokter juga butuh kita, sama saja seperti profesi lainnya. Saya ingin jadi informed customer dan merasa berhak mendapat servis setara dengan harga yang saya bayarkan. Kalau pelayanannya seburuk ini, tidak heran banyak pasien berduit yang memilih ke luar negri untuk berobat.

 

Sudah saatnya negara kita menjalani reformasi pelayanan kesehatan. Siapa kiranya anak bangsa yang bisa melakukannya?

 

Gambar diambil dari:

http://www.malangpost.com 

http://www.wjmillerbuilders.com 


VideoJun 6, '10 8:54 PM
for everyone
Bonnie always arranges pillows for her cushion.



Download this and other original video files with Multiply Premium.

Blog EntryMar 31, '10 12:32 AM
for everyone

Teman, cobalah tengok di lemari tempat kita menyimpan produk-produk pembersih rumah tangga. Berapa banyak produk kimiawi yang kita miliki? Di jaman modern ini, kebanyakan rumah tangga menggunakan bahan-bahan kimia untuk meringankan pekerjaan rumah tangga. Tanpa disadari, pembersih kimiawi yang digunakan mengandung racun dan bahan polutan yang berbahaya bagi kesehatan dan juga mencemari lingkungan. Banyak orang menderita asma, alergi, sinusitis atau bronkitis akibat pencermaran dari produk-produk pembersih kimiawi sintetis ini.

Bagaimana kalau kita coba pakai produk pembersih alami di rumah? Selain harganya jauh lebih murah, pembersih alami tidak mempunyai efek samping bagi kesehatan dan juga lingkungan.

Berikut beberapa pilihan bahan pembersih alami sehari-hari:

1. Baking soda

Baking soda, atau sodium bicarbonate, adalah bahan alami yang menetralisir asam dan basa, sehingga dapat menghilangkan bau dan bukan hanya menutupinya dengan aroma lain. Baking soda dapat juga digunakan sebagai bahan pembersih abrasif (scrub) dan untuk menghilangkan noda dari bak cuci, meja dapur bahkan keramik. Untuk menghilangkan bau di karpet, sepatu, wajan, litter box, dan lain-lain, cukup taburi dengan baking soda.

2. Cuka

Cuka adalah pembersih yang murah meriah, dapat menghilangkan deposit/kerak air, mengilapkan kaca, jendela dan permukaan metal. Dapat juga menghilangkan noda dan jamur. Encerkan cuka dan air dengan perbandingan 1:4, letakkan dalam botol semprot dan gunakan setiap saat.

3. Lemon

Salah satu asam dari buah yang paling kuat, merupakan bahan anti bakteri alami. Untuk menghilangkan noda atau karat di meja dapur, percikkan air lemon dan sedikit baking soda, lalu gosok hingga bersih.

4. Garam


Bahan pembersih alami yang sangat murah dan gampang ditemui. Garam bisa dicampurkan dengan cuka dan air untuk membersihkan berbagai alat rumah tangga, bahkan noda pada pakaian. Garam bisa juga dicampur dengan air jeruk nipis untuk membersihkan permukaan yang terbuat dari besi.

5. WD-40

Pelumas serba guna WD-40 dapat digunakan untuk menghilangkan noda lem dan crayon, menghilangkan noda minyak dan melumasi banyak bagian metal di dalam perkakas rumah tangga.


Kita juga dapat belajar membuat pembersih alami sendiri untuk berbagai keperluan rumah tangga di: http://www.eartheasy.com/live_nontoxic_solutions.htm


RecipeFeb 12, '10 9:32 PM
for everyone
Category:   Baking
Style:   Italian
Special Consideration:   Vegetarian
Servings:   6

Description:
Calzone is an Italian pastry, a cheese-filled turnover with a pizza dough. I woke up at 5.30AM to make this meal ready before 9AM, and it was totally worth the effort!

Makes 6 servings
About 2.5 hours preparation time

NOTE: Also good for breakfast if you fill the dough with nutella :)

Recipe taken from http://moosewoodrestaurant.com/

Ingredients:
The dough:
Soften together 1.5tsp dry yeast, 1 tbs honey and 1 cup warm water
Mix 1.5 tsp salt and 2.5 - 3 cups flour, put a hole in the middle and add the yeast mixture
Knead the dough for 10 - 15 minutes. Cover and set aside in a warm place to rise until double in size, about 1 hour (prepare filling while dough rises).

The filling:
250g pack ricotta cheese
200g mozzarella, grated
200g grated parmesan
300g fresh spinach, chopped
1 minced onion
3 cloves garlic, minced
a dash of nutmeg
salt and pepper
2 tbs butter
Sautee garlic and onion with butter until transparent and soft. Add spinach and sautee for another 3-4 minutes. Season with nutmeg, salt and pepper. Remove from heat, add the cheeses and mix thoroughly.

Directions:
Putting them all together:
Punch down the dough, divide into six parts and roll out in rounds about 1 cm thick.
Fill half the dough with filling, leaving about 2 cm rim.
Moisten the rim with water, fold the empty side over and pinch the edge together.
Crimp the edge with a fork, also prick the dough here and there.
Brush the surface with olive oil.
Bake on an oiled tray in a pre-heated 200 C oven for about 40 minutes or until crisp.
Brush each pastry with a little butter while still hot.
Serve with fresh garden salad.

Garden salad:
A pack of salad mix, yellow bell peppers, tomatoes, basil leaves or whatever healthy veggies you have on the fridge. Season with salt and pepper.

Simple salad dressing:
Mix olive oil and honey, add fresh lemon juice. Shake well.

Enjoy!


Photo AlbumGirl's Trip to Jogja 28-30 January 2010Feb 1, '10 12:01 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
An impromptu trip to Jogja, the land of batik, Borobudur, universities and cheap delicious food... it was great fun, and a lot cheaper than we expected. The best food was found in Mbok Marto's village house, where we took the food from her ancient traditional Pawon (kitchen) and ate in her rickety old house. We did a lot of sightseeing, a lot of eating and of course a lot of batik shopping.

All photos by Monika Hutadjulu.

Budget:
Return airfare Rp 850,000/person by Lionair
Accommodation Rp 200,000/room/night
Car rental Rp 450,000/car/12 hours
Food, drinks, entrance fees approx. Rp 150,000/person/day

Blog EntryJan 7, '10 3:53 AM
for everyone

I didn’t notice it at first, but ever since we had grass on our newly made lawn the dogs started to get ticks. They are small and flat with eight legs, but once they are full of blood they look similar to light-colored raisins. Unlike fleas, ticks cannot jump, and they tend to be found areas with folded skin.

Before we moved to our new home, we lived in a pavilion with almost no grass – every surface on the yard was laid with concrete. We didn’t have any problems with ticks or fleas then, even when we took the dogs out to the beach and they played with many stray dogs there. But in the new house, we have a large yard fully covered with grass. Ticks don’t cling permanently on the dogs’ skin, they stayed a while to suck the blood, and later fall off to lay eggs. The young ticks that hatch from those eggs crawl up and wait on the grass or branches, until a dog pass by or roll itself on the grass. Then the ticks just attach themselves onto the dog’s skin and the process begins again. The cycle only takes about 2 weeks long, this is why ticks increase very rapidly.

One day we noticed that the dogs were scratching themselves a lot, and upon inspection we found a number of these tiny suckers. Time for action before the ticks run rampant! Ticks are known to crawl around the walls, the upholstery, even on your body. In extreme cases, the number can reach hundreds or even thousands, so there is no other way to deal with it aside from chemical treatment. In our case, we never found more than a dozen on one dog at any time, so we chose the conventional methods. I’m not a big fan of chemicals (including ticks and fleas medication), and flea collars just don’t work, they are even toxic to dogs. Chemiclas insecticides in shampoos, soaps, powders and sprays are also dangerous, most have label warmings about wearing gloves and avoiding contacts with your skin. If we need protection from applying it, how can it be safe for our dog's skin?


DAILY BODY INSPECTION. It’s nasty and unpleasant, but it needs to be done. Every morning and evening I spend a considerable amount of time to hunt for fleas. Use tweezers, or just use the nails of your thumb and forefinger. The areas that they are commonly found are;

  •          between the fingers
  •         under and around the paws
  •         inside and around the ears
  •         armpits
  •         head and cheeks
  •         neck
  •         near the anus and genitals

Make sure the ticks are dead, by putting them in a jar of kerosene or by pinching them with your nail. Don’t forget to wash your hands thoroughly afterwards.

REGULAR WASHING. I use dog shampoo with Neem Oil base. Leave the lather on for ten to fifteen minutes before rinsing. I normally bathe the dogs every two weeks, but now I do it more often, once a week. After you bathe the dogs, rinse the skin using this lemon tonic: thinly slice a while lemon including the peel, add it to about 500ml of near-boiling water and let steep overnight. Sponge this solution onto the dog’s skin and let it dry. Aside from containing d-limonene which is a natural insecticide, lemon is also a natural antiseptic which can treat the inflamed skin caused by tick bites.

GIVE HEALTHY BOOST. Feed your dogs ½ to 1 clove of raw garlic, crushed or minced, into each feeding, to make the blood less appealing to ticks. My dogs used to eat garlic regularly, but somehow we slacked off (hence the ticks). So we went back to feeding them garlic regularly, we even make garlic water and squirt 10ml into each mouth every night. Talk about garlic breath! Nutritional yeast (torula or brewer’s yeast) will help too.

CLEAN THE HOUSE. Vacuum every nook and cranny regularly, don’t leave any dirty, hidden spots where ticks can lay in waiting. Bed, sofa, upholstery, curtains, hard-to-reach edges need to be wiped and cleaned frequently.

WASH THE DOGGIE BED. Launder the dog bed in hot, soapy water at least once a week, then dry on maximum heat to kill all stages of ticks and fleas.

LAWN MAINTENANCE.  Keep the grass short to allow sunlight to penetrate and warm the soil, which kills larvae and eggs. Watering regularly drowns the hatching eggs. Stop killing ants on your garden, because they help to eat the eggs and larvae. Don’t leave dead leaves and branches around the yard for long.

 

After about two weeks of struggle, nowadays we only find 1-2 ticks every time we inspect the dogs. The ticks are not all gone yet, but I’d say we’ve had a successful battle against ticks. I look forward to the day when we can no longer find any ticks on the dogs’ bodies like we used to before.

 

 

Source:

Dr. Pitcairn’s Complete Guide to Natural Health for Dogs and Cats, by Richard H. Pitcairn and Susan Hubble Pitcairn. Rodale Inc 2005. ISBN 13 978-1-57954-973-2


Images of ticks taken from:

http://www.southbostonanimalhospital.com/

http://animaldiversity.ummz.umich.edu/


RecipeDec 13, '09 9:49 PM
for everyone
Category:   Soups & Stews
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   4-6

Description:
Meskipun tidak ada asem yang digunakan, makanan ini benar-benar menjadi comfort food bagiku. Gunakan daging yang masih ada tulangnya (baikut, smoked ribs dll) supaya kaldunya lebih berasa. Bila tidak makan daging, bisa dibuat versi seafood dengan menggunakan udang yang besar-besar.

Ingredients:
300g sei / baikut /smoked ribs / udang
2L kaldu ayam / sapi
1 bungkus sayur asin, iris
100 g tempe, potong dadu
100 g tahu, potong dadu
4 siung bawang putih
6 siung bawang merah
3 cabe merah besar
3 cabe rawit (beri lebih kalau suka pedas)
1 potong lengkuas sebesar ibu jari
3 cm jahe
3 cm kunyit
minyak goreng
garam, gula, kecap manis

Directions:
Siapkan daging, potong2 bila perlu.
Iris tipis semua bumbu, tumis hingga harum. Masukkan ke dalam kaldu.
Masukkan daging/udang, sayur asin, tahu dan tempe. Panaskan hingga mendidih.
Kecilkan api, bumbui dengan garam, gula dan kecap manis. Biarkan selama sekitar 10 menit.
Sajikan panas bersama nasi. Nyaaaamm!


Photo AlbumNew product: handpainted cloth bagDec 10, '09 4:29 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Our latest product, this time has nothing to do with food.. I'm very excited to offer the multipurpose cloth bag with your dog's image handpainted on the front by artists from Ubud.

Part of the profit from the sale of these bags will be donated to Bali Animal Welfare Association (BAWA).

We can also do cat paintings!

For more information please visit http://www.homemadegrub.com/non_food.html

Blog EntryDec 10, '09 12:47 AM
for everyone

We had quite a rough night last night. First of all, the we got our ration of power outage and the lights didn't go back on until 11PM. Next, the aircon in our room wasn't functioning properly and failed to cool the room down.. the aircon is probably in the state of shock from frequent power cut-offs and unstable voltage. I was hyperventilating and perspiring from the lukewarm humid air. We had to move to the guest bedroom upstairs at sometime past midnight, hauling the large dog beds with us and carrying Ben and Bonnie who were really reluctant to be put so high above the ground. Then of course Bella just had to pee on the carpet that she hasn't laid eyes on before.

After all the excitement I lost my sleepy mood, so I read my book in bed instead. I managed to finish this book at nearly 2AM. And just at the few last pages I found the paragraph that I thought was so beautiful, so I put the quote below. Particularly for my friends who are newlyweds or brides-to-be, but it really goes for every heart.


"What does it mean to love a man? she thought. Does it mean you take his weaknesses, his shaking hands, transparent failings, and subsume them in yourself, where you can heal, and make them strong, and give them back to him restored? It means that at some point you give up the idea of yourself as a person capable of infinite expansion. It means that if an impossible choice is to be made between his life and yours, you choose his. And it means that you cannot repine for this hard moment, because he is grafted on to you; that what you do for him you do also for yourself and for some separate entity that is greater than the sum of both, because the dangerous enterprise of your joined life is more dramatic, more arresting, and more exciting than any alternative could ever be."

Sebastian Faulks
On Green Dolphin Street 

Vintage 2002 

ISBN 0 09 927583 X

Book cover image taken from www.amazon.com 



Blog EntryJun 9, '09 4:35 AM
for everyone

When people talk about Green Lifestyle, often they talk about the big steps. Use solar water heater. Buy toxic free paint. Insulate your house. Eat only organic products. Switch your car to hybrid. A lot of the big steps are yet too big to take, takes a lot of effort and money to do, or not feasible to do as yet. Below are the 10 small steps that we can do on our everyday life, which can also contribute to preserving the earth.


 

1. Bring your own mug and water bottle.

Buy a good quality reusable to-go mug for your coffee, and bottle that you can refill water in. You can help decreasing the number of polystyrene cups and individual water bottles are thrown away in billions each year, most of which end up in landfills

 

2. Buy ice cream in a cone instead of a cup

It’s a very easy step, and cones are tasty anyway. This way you can reduce your plastic usage, and use fewer of the resources needed to make products and packaging.

 

3. Bring your own shopping and laundry bags

I put the bigger reusable cloth bags in the car and the smaller one in my purse, so I have access every time I buy something. Plastic bags is a huge problem in this country, so everybody should do their part and reduce their usage. You can also practice to refuse plastic bag at the local convenience store or at the warung.

 

4. Buy in bulk

Every month I go to the store where I can buy household items in bulk, such as tissues, rice, liquid soap, cleaning items etc. Bulk items have minimal packaging and are often significantly cheaper than individually packaged products.

 

5. Take shorter showers

Just by cutting your shower by two minutes, you can save about 10 gallons of water. Save the singing for the karaoke bars!

 

6. Turn off your computer after using it.

Turn off your computer anytime you're not on it, and eliminate the screen saver function, which uses more energy than the sleep mode. The same also goes to your other electronic appliances such as TV, chargers, DVD players etc.

 

7. Reduce your need for speed

The slower you drive, the less gas you use. I found that when driving at 80 km/h the gas meter goes down faster compared to when driving at 60 km/h. Also opt for carpooling to save even more money and gas.

 

8. Use homemade cleaning products

Reduce the number of chemicals in your house by using more natural cleansers like vinegar and baking soda, which do a great job without harming the planet.


9. Use less paper towel (or tissue)

If you use to pull five squares of toilet paper, try pull four instead. If you are accustomed to reach for the paper towel every time you clean your kitchen, try to switch it to washable cloth towel instead. It will amount to a huge savings in the long run, for both your money and the trees.9. Use less paper towel (or tissue)


10. Try not to spend money for one day

Every month, challenge yourself not to spend any money for one day. Bring a lunchbox from home, don’t stop to buy coffee, don’t drop by the mall after work, postpone the trip to the grocery store. Keeping your wallet closed for an entire day is harder than you may think, and it makes you more aware of your spending habits and how much you consume, in addition to reducing carbon footprints and resources otherwise spent for that day.


Photo taken from http://www.care2.com/greenliving/5-ways-to-show-trees-the-love.html


Photo AlbumMelaspas Ceremony For The New House, 7 June 09Jun 7, '09 8:25 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Yesterday (Sunday) we dressed up in Balinese traditional clothes and went to the new house to do the melaspas (cleansing) ceremony. We had a Balinese priest blessing and praying for the house so we will have peace and harmony when we live there. It was a small affair, only a few people attended - we are planning to have a housewarming party later and invite more people :)

We had a table of offerings laid in the study room, where the priest prayed and did the whole blessing ritual. Then the ladies went around the house and sprinkle holy water in every room. Then Tom buried some of the offering on the ground near the main building. The whole thing took about one hour, then we had early lunch of Nasi Ayam Kedewatan. We ate from the box because the kitchen's not done yet and we didn't have any utensils :)

I was particularly happy with this ceremony because it marked another milestone for us, that means we are very close to moving in. There are still quite a few things to be done with the house but we want to move in anyway even though it's not 100% finished.. otherwise we'd have to wait even longer!

Photos taken by Monica and Tom.


Start:     Jun 7, '09
Location:     Denpasar, Bali
Now that our new house has the roof attached and almost ready to be lived in, we are having the traditional melaspas ceremony this Sunday. We are very fortunate to have a lot of Balinese colleagues and friends volunteering to help us preparing for this ceremony - otherwise we wouldn't have a clue of what to do.

The melaspas ceremony is conducted to consecrate a new site, to symbolically purifies a new place, chasing out the evil spirits in preparation for operation or occupation. The Melaspas is one of the Bali traditional ceremonial where this ceremonial is purpose to clean the negative element from the building. The Balinese peoples believe that the entire thing especially a building has Great Spirit of goodness soul which stays in the building which in Bali language “Medaging or Pedagingan” the purely goodness spirit.

Even though neither of us are Balinese, we highly respect the Balinese tradition and want to incorporate it in our lives the best way that we can. We moved to this Island and build on the land formerly owned by Balinese people, so it seems only right that we uphold the custom and do the purification ritual before we occupy the house. Blessings are always good, regardless from which tradition or religion they are coming from. In my opinion, doing this ceremony doesnt' make us any less Christian.

Photos coming soon!

Photo AlbumBella's Pool DayMay 25, '09 1:08 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bella's always trying to swim in her tiny water bowl, so we got her this plastic pool to play in. She loooooves it! After some initial hesitation she is now jumping in and out of the pool at will. She is already making some swimming strokes, only the pool isn't deep enough to swim in. Once she is fully vaccinated we will take her to swim in the ocean.

Now the hardest part is to keep her dry, and also to keep the house clean. Bella keeps walking in dripping wet from the pool :)



Blog EntryMay 12, '09 12:14 AM
for everyone
We are using Biofil, a septic tank that uses live bacteria to process the waste into clear water. We are planning to reuse this water for our garden irrigation system, this way we are extracting less water from the environment.

This is the photo of our septic tank in its hole:

As you can see, the installation isn't quite done yet, the pipes need to be in place and a small concrete area will be built next to the tank to contain the effluent water. A pump will then placed to take the water out.

This is the write up from the manufacturer's website:

Biofil is a "Biological Filter Septic Tank" made of fiberglass. It is equipped with a specially designed contact media and disinfecting system that can be adjusted to your needs so that the effluent will not pollute the environment.

Biofil is one of PT. Induro International's Products, which has the expertise in fabrication of fiberglass of more than 30 years, in collaboration with Research Institute for Human Settlements Agency for Research and Development, Ministry of Public Works of The Republic of Indonesia.

Effluents from Biofil has met the standard of quality of domestic water effluent in accordance with Regulation of the State Ministry of Environment No. 112, 2003.

The Advantages :

  • Has three compartments with two types of contact media so that the treatment process is more  effective and complete
  • Equipped with disinfecting system to kill bacteria from effluent
  • No required much space because Biofil no need leach field
  • Quick and simple installation
  • Leak proof to protect the environment
  • Made of corrosion resistant material
  • Maintenance free

Photo AlbumWelcome home, Bella! May 11, '09 9:48 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
She is the latest addition of our family. We only intended to have a look at her to see what's the market price for a purebred female chocolate Labrador, something or a rarity in Bali. But we fell in love with her immediately, and took her home with us. Bella came with a tattoo and paperwork, her full name is Isabella Diamond. She is very robust and high-spirited, and not easily intimidated by the other (much larger) dogs in our house.

She was 10 weeks old when we got her, and being that young she wants to put everything inside her mouth. Our toes, our fingers, sandals, newspapers, pebbles... anything within her sight. She is also a fierce eater who manages to finish her bowl in less than 5 minutes - currently she is eating four times a day, a full bowl each time. Whenever she sees her bowl she would jump and hop around like a bunny, but we're not feeding her unless she sits still.

Just after Bonnie managed to sleep the whole night through, we had to start all over again with the potty training. We take turns waking up every three hours to take Bella outside to poop and pee. Last night she whined for the first time, wanting to be taken outside to poop :)

Our family is getting bigger. Life is getting more and more fun with Bella around...


NoteGuestbook
   
doggiesparadise wrote on Aug 16, '10
Hallo Mia,
thanks for this great information about dog behavior. I hope many people read it and start to learn about dogs, and start to use their brain when being around dogs...
Warm regards
Angie
Animal Behaviorist, Naturopath, Book Author
http://www.doggiesparadise.com/online-training.shtml
cutsmell wrote on Dec 30, '08
wow tulisan tentang dog food nya detail dan lengkap. belum ditambah di indonesia banyak penjual import DF curah dari thai atau aussie terus bikin kantong dgn seenaknya tulis isinya sesuka dia. tapi kalau kita lihat masih banyak yg antara harga dan isi masih ok. aku sih lihat di dogfoodanalysis.com. asal baca secara berurut dan isinya jelas yg ok lah. kalau bikin sendiri agak repot ya.
cutsmell wrote on Dec 30, '08
Hi, sudah pernah dengar tentang Cutsmell belum ? Coba deh buka http://cutsmell.multiply.com/ disana ada solusi untuk menghilangkan bau urine anjing yg mengganggu. Saya sendiri piara French Bulldog sudah pakai dan puas. Semoga sukses.
bioskopindonesia wrote on Nov 14, '08
anjing yg rebahan 3 ekor lucu..
kutchiee wrote on Aug 4, '08